Tauladan : Jenazah Seorang Wanita Cantik Yang di Tolak Bumi, Kerana Melakukan Perkara Ini Semasa Hidup!

Sebuah kejadian yang agak pelik terjadi dalam proses pengebumian seorang wanita yang berasal dari sebuah daerah di Malaysia yang sangat sukar saat hendak dimasukkan ke dalam liang lahat.

Kisahnya bermula dengan ahli keluarga dan jiran tetangga mengantar jenazah yang telah dikafankan. Walaupun telah diangkat oleh enam orang lelaki dewasa dengan formasi dua di depan dua di tengah dan dua dibelakang, akan tapi keranda itu masih lagi terasa sangat berat.

Sehingga ditambah dua orang lelaki dewasa membantu untuk mengangkat jenazah dan akhirnya jenazah itu pun berjaya dibawa ke tanah perkuburan.

Setelah jenazah sampai di tanah perkuburan, terjadi sedikit masalah apabila dengan tiba-tiba hujan turun dan menyebabkan tanah menjadi licin dan beberapa orang telah tergelincir.
Sepanjang proses pengebumian, tanah perkuburan itu dipenuhi dengan tangisan keluarga dan sanak saudara.

Penggali kubur yang ada adalah seorang yang sangat berpengalaman (20 Tahun pengalaman). Beliau boleh mengagak dalam menentukan lokasi dan ukuran jenazah yang akan dimasukkan dalam liang lahat.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! ! kata-kata itu keluar dari mulut hampir semua yang hadir dalam pengebumian tersebut setelah satu kejadian aneh telah terjadi.

Jenazah wanita tersebut sudah 3 kali dimasukkan dalam liang lahat namun tidak muat, padahal si penggali kubur sudah melebarkan dua kali dari ukuran asal.

Setelah gagal dalam hal tersebut seorang ustaz menyuruh anggota keluarga untuk azan dipengebumian itu. Dan barulah jenazah selamat dimakamkan.

Menurut jiran tetangganya, almarhumah adalah wanita yang suka mengumpat serta memfitnah tanpa bukti, dan almarhumah juga tidak pernah menutup auratnya selama hidup, dia suka memakai pakaian seksi menampakkan bentuk tubuh badannya.

“Kami sebagai jiran pernah menegur kelakuannya itu, namun kami di caci maki serta dilempari dengan kasut. Kami faham bahawa dia lebih kaya dari kami, jadi kami tidak berani bercakap lebih kenara takut jika dia melalukan perkara-perkara yang tak diduga”

jadikanlah ini pelajaran bagi kita agar kita tak menjadi umat seperti ini. silahkan share jika menganggap ini penting dan wajib dibaca banyak orang. semoga bermanfaat

” Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya. ” (HR. Muslim)

Lagi Kisah Tauladan :

Sebuah Kisah Benar Jenazah yang Ditolak Bumi

Ini adalah kisah benar, kisah menguburkan seorang petugas pejabat di sebuah kota di Kuala Lumpur. Nama dan alamat sengaja tidak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan.

Insya Allah kisah ini menjadi hikmah bagi kita semua sebelum ajal menjemput. Kisah ini diceritakan oleh seorang pengurus jenazah kepada En Wahidin, seorang sahabat Ustad Yusuf Mansur. Inilah kisahnya :

“Saya pengurus jenazah sudah terlibat dalam pengurusan jenazah lebih dari 16 tahun. Sudah berbagai pengalaman telah saya lalui, sebab dalam waktu tersebut sudah bermacam-macam jenis mayat yang saya tangani. Ada yang meninggal dunia akibat kemalangan, sakit di usia tua, sakit jantung, bunuh diri dan sebagainya.

Bagaimanapun, pengalaman mengurus jenazah seorang pejabat yang kaya serta berpengaruh ini, menyebabkan saya mendapat kesempatan paling ‘istimewa’ di sepanjang hidup saya. Inilah pertama kalinya saya mengalami kejadian yang cukup aneh, menyedihkan, menakutkan, dan sekaligus memberikan banyak hikmah.

Sebagai pengurus jenazah tetap di bandar, saya diminta oleh anak almarhum untuk mengurus jenazah bapaknya. Saya pun pergi ke rumahnya. Ketika saya tiba di rumah almarhum, tercium bau yang sangat busuk dari jenazah itu. Baunya cukup menjijikan dan membuat perut saya mual. Saya telah mengurus banyak jenazah tetapi baru kali ini saya bertemu dengan jenazah yang sebusuk ini.

Ketika saya lihat wajah almarhum, saya merasa tersentuh. Saya tengok wajahnya seperti dirundung oleh bermacam-macam perasaan antara takut, cemas, kesal dan lain-lain. Wajahnya seperti tidak mendapat cahaya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kemudian saya pun mengambil kain kafan yang dibeli oleh anak almarhum. Kemudian saya memotongnya. Kebetulan, disana ada dua orang yang pernah saya ajarkan ketika mereka mengikuti kursus kepengurusan jenazah. Saya ajak mereka membantu saya dan mereka pun setuju.

Tetapi selama memandikan mayat itu, kejadian yang aneh pun terjadi. Apabila memandikan jenazah, tubuh mayat itu perlu dibangunkan sedikit kemudian perutnya diurut-urut untuk mengeluarkan kotoran yang tersisa dalam tubuhnya. Maka saya pun mengurut-urut perut almarhum. Namun apa yang terjadi pada hari itu sangat mengejutkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kekuasaannya pada hari itu, karena kotoran tidak keluar dari dubur jenazah melainkan melalui mulutnya. Hati saya berdebar-debar. “Apa yang sedang terjadi ini?”, saya pun bertanya-tanya. Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan kotoran, saya berharap hal itu tidak terulang lagi. Lalu saya mengurut perutnya untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berlaku kembali, ketika saya urut perutnya, keluarlah dari mulut mayat itu kotoran bersama beberapa ekor ulat yang masih hidup. Ulat itu seperti belatung.

Padahal almarhum meninggal dunia akibat serangan jantung dan waktu kematiannya dalam tempo yang begitu singkat. Namun mengapa mayatnya sudah menjadi sedemikian rupa? Saya perhatikan wajah anak almarhum. Mereka terlihat terkejut, mungkin malu, kerana apa yang terjadi kepada bapaknya. Kemudian saya menoleh ke dua orang yang membantu saya tadi, mereka juga terkejut dan panik. Saya katakan kepada mereka: “Ini adalah ujian dari Allah kepada kita!” Kemudian saya minta salah seorang yang membantu saya tadi untuk pergi memanggil semua anak almarhum.

Almarhum sebenarnya adalah orang yang beruntung karena mempunyai tujuh orang anak, semuanya laki-laki. Seorang berada di luar negeri dan enam lagi berada di rumah. Ketika semua anak almarhum masuk, saya nasihati mereka. Saya mengingatkan mereka bahwa tanggung jawab saya adalah membantu mengurus jenazah bapak mereka, bukan mengurus semuanya. Tanggung jawab yang lain harus diuruskan oleh warisnya. Sepatutnya sebagai anak, mereka yang lebih afdhal mengurus jenazah bapak mereka, jadi bukan hanya imam, bilal, atau guru saja yang mengurusnya.

Saya kemudian meminta izin serta bantuan mereka untuk menunggingkan jenazah itu. Takdir Allah kembali berlaku. Ketika ditunggingkan jenazah tersebut, tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup, hampir sebakul banyaknya, sementara bakul itu ukurannya kira-kira lebih besar sedikit dari tudung saji meja makan. Allahuakbar, suasana menjadi semakin tegang. Kejadian ini benar-benar tidak dapat diterima akal kita. Saya terus berdo’a dan berharap tidak terjadi kejadian yang lebih buruk.

Setelahnya saya memandikan kembali almarhum dan saya wudhukan. Saya meminta kain kafan kepada anak-anaknya. Saya bawa jenazah almarhum ke dalam biliknya dan tidak saya izinkan seorang pun melihat prosesi itu kecuali ahli waris yang dekat karena saya takut kejadian yang lebih buruk akan terjadi.

Peristiwa yang terjadi setelah jenazah diangkat ke bilik dan hendak dikafankan juga ganjil. Ketika jenazah ini diletakkan di atas kain kafan, saya lihat kain kafan itu hanya cukup menutupi ujung kepala atau kakinya saja. Apabila kain kafan itu ditarik menutupi kepalanya, maka kakinya tersingkap, begitu juga sebaliknya. Maka saya tidak mampu mengikat kepala atau kakinya. Kain kafan itu bagaikan tidak mau menerima mayat tadi. Tidak mengapalah, mungkin saya yang salah mengukur dikala memotongnya Lalu saya pun mengambil kain lainnya, saya potong, dan disambungkan dengan kafan tadi agar bisa menutupi kaki jenazah. Memang kain kafan jenazah itu jadi sambung-menyambung, tapi apa yang hendak dikata, itulah yang mampu saya lakukan.

Lalu saya berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, jangan kau hinakan jenazah ini ya Allah, cukuplah sebagai peringatan kepada hamba-Mu ini.”

Sehabis saya beri taklimat tentang solat jenazah tadi, satu lagi masalah timbul, iaitu jenazah tidak dapat diantar ke tanah pekuburan kerana tidak ada kenderaan jenazah maupun ambulans. Saya hubungi keseluruhan, pusat Islam, masjid, dan sebagainya, tapi tetap tidak ada jalan keluar. Semua kenderaan sedang digunkan dan tiada yang tinggal, beberapa tempat tersebut juga tidak punya kenderaan jenazah lebih dari satu kerana semua kenderaan juga sedang digunakan. Saya fikir hal ini bukan sekadar kebetulan.

Dalam keadaan sulit itu seorang lelaki muncul menawarkan bantuan. Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar agar dia mengeluarkan van dari garaj rumahnya. Kemudian munculah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk parking vannya itu di rumah almarhum, tiba-tiba istrinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata di hadapan orang-orang yang hadir: “Bang, saya tidak izinkan kenderaan kita ini digunakan untuk mengangkat jenazah itu, sebab semasa hidupnya dia tidak pernah mengizinkan kita menaiki kenderaannya.” Jadi saya menyuruh lelaki yang tuan punya van itu untuk membawa kembali vannya.

Selepas itu muncul pula seorang lelaki lain yang menawarkan bantuannya. Lelaki itu mengaku sebagai murid saya. Dia meminta izin kepada saya untuk mengambil dan membersihkan kenderaannya selama kira-kira 10-15 minit. Akhirnya, munculah kenderaan tersebut, tapi dalam keadaan basah sehabis dicuci. Kenderaan itu sebenarnya sebuah lori. Dan lori itu sebenarnya digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam ke pasar.

Akhirnya jenazah almarhum pun diangkut menggunakan lori tersebut diikuti rombongan pengiring jenazah. Dalam perjalanan menuju kawasan perkuburan, saya berpesan kepada dua orang yang membantu saya tadi agar masyarakat tidak usah membantu kami menguburkan jenazah, cukup tinggal di rumah allahyarham saja. HIni kerana saya tidak mau mereka melihat peristiwa yang ganjil lagi.

Rupanya apa yang saya takutkan berlaku sekali lagi, takdir Allah yang terakhir terasa amat memilukan. Sesampainya Jenazah tiba di tanah pekuburan, saya perintahkan tiga orang anaknya untuk turun ke dalam liang lahat dan tiga orang lagi menurunkan jenazah dari atas. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha berkehendak atas semua makhluk ciptaan-Nya! Saat jenazah itu menyentuh tanah liang lahat, tiba-tiba air hitam yang busuk baunya keluar dari celah tanah yang pada awalnya kering. Hari itu tidak ada hujan, tapi dari mana air itu muncul? Saya pun tidak tahu jawapannya.

Lalu saya arahkan anak almarhum untuk memasukkan jenazah bapak mereka di dalam keranda dengan hati-hati karena saya takut nanti ia terlentang atau telungkup, na’udzubillah. Kalau mayat terlungkup, maka tak ada harapan untuk mendapat syafa’at Nabi. Papan keranda pun diturunkan perlahan dan kami segera menimbun kubur tersebut dengan tanah. Setelahnya kami injak-injak tanah tersebut supaya padat dan bila hujan ia tidak longsor ke bawah.

Tapi sungguh hairan, saya perhatikan tanah yang dipijak itu menjadi becak. Saya tahu, jenazah yang ada di dalam pasti tenggelam oleh air hitam yang busuk itu. Melihat keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak almarhum supaya berhenti memijak tanah itu dan meninggalkan lubang kubur sedalam 1/4 meter. Jadi kuburan itu tidak ditimbun hingga ke permukaan lubangnya, jadi seperti ada lubangnya. Tidak hanya itu, ketika saya hendak membaca talqin, saya melihat tanah yang dipijak tadi ada resapan air. Masya Allah, masakan peristiwa seperti ini boleh terjadi. Melihat keadaan ini, saya memutuskan untuk menyelesaikan pengkebumian secepat mungkin.

Sejak lama mengerjakan penguburan jenazah, inilah mayat yang saya tidak bacakan talqin. Jadi saya bacakan tahlil dan do’a yang paling ringkas. Kemudian saya kembali ke rumah almarhum dan mengumpulkan keluarganya. Saya bertanya kepada isteri almarhum, apakah yang telah dilakukan oleh almarhum semasa hidupnya.

  1. Pernahkah dia pernah menzalimi orang?
  2. Pernahkah dia mendapat harta dengan jalan yang haram seperti merampas, menipu, riba, atau mengambil yang bukan haknya?
  3. Pernahkah dia memakan harta masjid atau anak yatim?
  4. Pernahkah dia menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi?
  5. Atau apakah dia tidak pernah berzakat, bersedekah, atau infaq?

Isteri almarhum tidak dapat memberikan jawapannya. Saya rasa mungkin dia malu untuk memberi tahu. Lalu saya pun memberikan nombor telefon rumah saya kepada mereka dan segera beredar  dari sana. Namun sedihnya, hingga sekarang, tidak seorang pun anak almarhum yang menghubungi saya.

Yang dimaklumkan, anak almarhum merupakan orang yang berpendidikan tinggi. Malah ada di antara anak almarhum yang beristrikan orang Amerika, anak yang lain dapat isteri orang Australia, dan seorang lagi beristeri orang Jepun.

Peristiwa ini akan tetap saya ingat. Ini adalah kisah nyata yang saya alami. Semua kebenaran saya kembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala pemilik langit dan bumi.

Tanyakanlah pada diri kita masing-masing, apakah kita menginginkan peristiwa itu terjadi pada diri kita, ibu kita, bapak kita, anak kita, atau keluarga kita.? Semoga akhir hidup kita semua dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin Yaa Rabbal’aalamiin.

Itulah pengalaman yang dialami oleh seorang pengurus jenazah. Semoga ini mampu menjadi renungan untuk kita semua yang masih hidup. Semoga bermanfaat. InsyaAllah..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*